Cerita Irawan
Duduk di sudut warung kopi sempit yang disempilkan seadanya di tengah padatnya rumah penduduk, Irawan menghabiskan es teh keduanya. Napasnya mulai teratur, keringatnya mulai berhenti mengalir, tapi matanya masih waspada mengawasi sekitarnya. Para pekerja bangunan yang sedang menikmati jam makan siang sama kekarnya dengan para pengejar dirinya. Membuat Irawan menggedikkan bahu menahan jerit histeris jika ada pekerja bangunan yang masuk ke warung kopi.
Percuma mengkhawatirkan ancaman yang tidak keliatan, Irawan pun bercerita.
Tidak ada yang istimewa pagi hari ini. Irawan melakukan rutinitas di kantor seperti biasa. Datang satu jam sebelum jam kantor, basa-basi dengan Pak Atmo, satpam kantor. Segera menghindar begitu Pak Atmo mulai bercerita pengalaman tempurnya pada operasi “Seroja” dalam rangka pembebasan Timor-Timur, yang biasanya disambung dengan keluhan kenapa setelah susah payah di dapat, dilepas begitu saja. Irawan sudah puluhan kali mendengar cerita ini dan sudah begitu berpengalaman buat ngeles begitu Pak Atmo mulai cerita pengalaman heroiknya di masa muda.
Seperti biasa, begitu berhasil menghindar dari Pak Atmo, Irawan meluncur ke pantry membuat secangkir kopi kental manis. Sebelum melangkah meninggalkan pantry, Irawan mencecap kopi yang masih mengepul. Irawan mendesah puas, “Begini harusnya kalo bikin kopi.”
Irawan tidak pernah mempercayai Bujang untuk membikin kopi buat dirinya. Bujang adalah OB muda yang jauh-jauh dari ranah minang sesampainya di ibu kota diperdaya dengan iming-iming jabatan sebagai “Tenaga Bantu di kantor Pemerintah Daerah”. Mungkin sebagai bentuk balas dendam karena bertahun-tahun statusnya tidak jelas di kantor ini, Bujang selalu membuat kopi yang bisa mencekik peminumnya. Beberapa staf di kantor ini bertindak bijaksana dengan memesan air putih saja, yang lain diam-diam membuat kopi atau teh sendiri tanpa sepengetahuan Bujang. Termasuk Irawan.
Tidak membuang waktu, Irawan membawa kopinya ke meja kerja dan langsung menghidupkan komputer, onlen.
Satu-satunya alasan Irawan datang pagi-pagi ke kantor adalah koneksi internet kantor yang belum tercemar oleh orang-orang sekantornya yang tahu namnya internet itu ya facebook. Jadi, begitu perusuh-perusuh itu onlen, habis jatah benwith kantor cuma buat facebookan.
Maka dimulailah bisnis online Irawan di pagi yang tenang ini. Irawan baru merintis bisnis online dengan cara membeli domain, diolah dan ditingkatkan page-rank-nya. Setelah rangkingnya tinggi, kemudian dijual ataupun sekedar membuat review pesanan. Beberapa domain telah dimiliki perjaka ceking berambut keriting ini, beberapa akun paypal dan rekening juga telah dibuka. Alasan sederhana dari manusia sederhana ini soal kenapa sampai harus memiliki beberapa akun bank dan paypal, Irawan enteng menjawab, “Bila kelak aku jadi kaya raya dari bisnisku ini, aku kudu bikin banyak akun buat ngindarin pajek. Bikin sekarang, keburu repot ntaran.”
Betapa terkejutnya Irawan saat membuka situs miliknya yang dia khususkan buat review, http://irawan.cahbag.us, terpampang disitu tulisan : “situs Anda sedang diblokir, silahkan hubungi administrator.” . Begitulah kira-kira terjemahannya. Karena meski sudah lama malang-melintang di dunia maya, kemampuan Irawan soal basa englais, tidak lebih dari kalimat “I Love You Full.”
Saat dicek di email irawan@cahbag.us, malah ada surat yang baru masuk dari Polisi Militer Kebayoran Baru, yang isinya kalau Irawan telah melakukan tindakan ilegal pencurian uang.
Kontan saja Irawan panik. Tanpa sadar, jemari kurusnya gemetar membuka kembali email-email dari nickname : kay. Belum lama ini entah dari mana datangnya, ada email masuk ke akun yahoo! Mail Irawan. Email dari seseorang yang memakai nama “Kay”. Pada imel pertamanya, langsung dia menawarkan uang $ 100.000 yang bakal ditransfer lewat paypal, asal penerima email ini mau membalas dan memberikan data dirinya.
Tentu saja waktu itu Irawan berpikir sinis, “Gak sms, gak imel, ada aja tipuan kayak gini.”
Bukannya menghapus, lelaki lugu (lucu 'n guoblok) ini malah mengirimkan salah satu akun paypal yang dia anggap gak bakal digunakan dalam waktu dekat ini, dan juga data dirinya yang diisi asal aja. Irawan pikir, keisengan kudu dibales dengan keisengan.
Badai itu datang satu hari kemudian. Masuk Email dari Kay, memberitahukan kalau uang $ 100.000 sudah ada di akun paypal Irawan, silahkan dicek. Penasaran, Irawan langsung meluncur ke akun paypal yang dikasih tau ke Kay.
Seratus ribu dolar! Nyaris 1 Milyar, ada di rekening paypal Irawan!
Butuh beberapa menit buat Irawan buat memastikan jantungnya ada di posisi yang benar. Bak penderita Parkinson,tangan Irawan gemetar hebat saat memastikan siapa yang mentransfer angka fantastis itu.
Dari Kay, dikirim tanggal 9 Juli pukul 8.30.
Berarti, setengah jam setelah Irawan mengirim email konfirmasi kepada orang tidak jelas yang disangka penipu dengan modus operandi baru.
Selanjutnya, Irawan tidak tau apa yang dilakukan berikutnya. Otaknya yang tidak pernah berpikir lebih rumit daripada bagaimana cara mengajak kencan Sinta bagian keuangan, shock dan stroke mendapat kejutan seperti ini. Kemudian ditambah email dari Polisi Militer keesokan paginya, membuat Irawan nyaris kehilangan kesadaran dengan nyaris nekat nembak Sinta bagian keuangan, yang berarti bunuh diri. Sinta selingkuhan kesayangan Kabag. Keuangan, bisa-bisa Irawan tidak digaji seumur hidup.
Untunglah, naluri “selalu melarikan diri dari masalah”, masih menyelamatkan Irawan. Irawan melihat dari jendela samping meja kerjanya yang menghadap tempat parkir kantor, dua mobil hitam misterius datang dengan cepat. Begitu Pak Soni Kabag.kepegawaian yang merangkap jadi bos Irawan bilang, “Wan, ada tamu tuh.”
Irawan sudah berada di ambang jendela kantor yang menghadap halaman belakang, di samping meja kerja Pak Endar yang melongo bingung melihat tingkah rekan sejawatnya. Siap melarikan diri.
“Baik Pak, suruh tunggu aja!” seru Irawan sebelum meloncat ke luar jendela, kabur.
Pak Soni menyampaikan pesan Irawan, dua tamu berbadan kekar berwajah agak sangar ( yang sangar-sangar di suruh jaga di luar), mematuhi pesan Irawan. Sayangnya, tiga pria kekar nan sangar berpakain hitam-hitam yang menunggu di luar tidak menerima pesan Irawan. Jadinya begitu melihat Irawan kabur lewat jendela, tiga orang ini mengejar Irawan. Jadilah cerita kejar-kejaran seperti tersebut di atas.
Demikianlah, Irawan mengakhiri ceritanya dengan memuntahkan seribuan makian dan sejuta kutukan pada Kay, siapapun itu.
“Cerita ke siapa, sih?”
“Ke pembaca, dong!” butuh beberapa detik buat Irawan menyadari di depannya sudah ada lelaki kecil memakai t-shirt putih gombrong di balik jaket jean, topi hitam berbordir “Sox” menutupi separuh wajahnya yang berkulit kuning langsat, terlalu halus untuk ukuran cowok. Tapi memang cowok sekarang juga pada rajin facial. Umurnya sekitar 18 tahun. Ada sesuatu pada diri anak ini yang bisa membuat orang segera melupakan keberadaannya. Tipe anak yang langsung diabaikan begitu mengucap salam. Buktinya, Irawan tidak tau kedatangan cowok yang sudah duduk dihadapannya sambil menyeruput es jeruk. Yah, meski tadi Irawan asyik bercerita sendiri.
“Siapa kamu?” selidik Irawan, waspada.
“Kay.”
“Oh, Kay.”
.......
“APA?! JADI ELO YANG NAMANYA, KAY?! ANJ....”
“Woi, woi...tenang!”
“NGAPAIN JUGA, GUE KUDU TENANG, HAH?!”
“Bab ini udah mo abis.”
“Oo...oke.”
(bersambung)
Pencet Buat Nerusin...