JALAN KELUAR
Selasa, 21 Juli 2009
Tiga Lelaki Kekar
Seluruh hidup Irawan dihabiskan untuk mengabdi sebagai orang yang masuk kategori biasa-biasa saja. Wajah biasa-biasa saja, prestasi akademik tidak lebih menonjol dibanding teman-temannya. Setelah lulus kuliahpun, Irawan jadi PNS biasa kantor Pemda dengan prestasi biasa-biasa saja. Benar-benar tidak ada yang istimewa di hidup pria lajang 26 tahun ini. Hampir seluruh kegiatannya dihabiskan buat online baik di kos, angkot ataupun di kantor. Tapi, bahkan kegiatan di dunia mayanya pun tidak ada yang istimewa. Cuma buat plurk-ing dan blogwalking, facebook aja jarang dia jabanin. Seringnya nongkrong di http://pojokpradna.wordpress.com. Datar dan nyaris membosankan.
Sampai saat ini.
Pemuda bertubuh cuma selembar ini kudu sprint, padahal olahraga terakhir Irawan adalah pas kelas 3 SMA, udah lewat 8 tahun berarti. Wajah ovalnya dibanjiri keringat. Matanya yang sayu karena terlalu banyak online di depan komputer, tampak membesar. Kakinya yang kecil dan panjang terbungkus celana PNS warna coklat muda, memaksa tubuhnya berlari melebihi batas kemampuannya. Kulit telapak kakinya menjerit-jerit protes dibalik kaos kaki murahan dan sepatu kerja dari kulit imitasi saat berlari, melompat dan menari melintasi gang-gang kecil dari rumah-rumah berukuran liliput yang berdiri rapat tak beraturan. Menari dalam arti sesungguhnya, karena anak-anak kecil dan anak-anak ayam berseliweran dengan merdeka, bikin Irawan kudu meliuk-liukkan badannya bak penari meminta saweran lebih.
Tidak dapat berlari lebih jauh lagi, setelah menikung dengan gerakan manuver berbahaya, Irawan membuang dirinya, nyungsep di tumpukan kandang ayam, bebek dan entok yang langsung diprotes penghuninya karena mengganggu ketenangan mereka. Segera saja seluruh tubuh Irawan dipatuki ayam, bebek tak lupa entok. Di kesempatan normal, tentulah Irawan bakal bikin rica-rica triple-combo dari unggas-unggas yang berani-beraninya menotok seluruh titik sensitifnya. Tapi kini dia hanya berani diam memperhatikan tiga pengejarnya melewati tempatnya berada, sambil berdoa biar pengejarnya tidak ada yang kepikiran bikin rica-rica juga. Ternyata doa Irawan masih dikabulkan, tiga lelaki kekar bercelana jins ketat, berkaos hitam ketat yang jelas dimaksudkan untuk menunjukkan otot-ototnyan, keliatan sekali kalo mereka mengidolakan penjahat-penjahat di sinetron. Para pejantan ini berderap melewati tempat persembunyian Irawan tanpa melirik sedikitpun. Bahkan dalam larinya, mereka masih berlari sambil membusungkan dada. Ck, penampilan memang segalanya.
Begitu merasa aman, Irawan menghembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Disamping tegang, bau kandang ini juga minta ampun. Irawan melompat keluar, diiringi tatapan kemenangan dari seluruh Rukun Kandang.
Mengibas-ngibaskan seragam Pemdanya, Irawan tampaknya sudah siap bercerita kenapa dia sampai dikejar-kejar pria-pria berwajah garang.
“Enak aja! Ntar dulu, capek tau. Gue mo cari minum dulu!” protes Irawan. Lalu, Irawan berjalan gontai mencari warung minum.
Demikianlah. Tampaknya harus bersabar sedikit lagi buat mendengar cerita Irwan.
(jelas bersambung)

