Senin, 21 Desember 2009

Ketika Cinta Bertasbih 1 the Movie

(representasi dari "kesungguhan")



basbang? jelas..
bagi jelata seperti saya yang tinggal di pedalaman, nonton film di bioskop adalah suatu hal yang mewah. Di samping harus turun gunung dan menyeberangi 2 sungai, juga harus menabung untuk membeli tiket bioskop..

lebay? jelas..

Makanya, untuk urusan buku atau film saya beberapa tahun tertinggal.Untuk itu, tak heran jika saya baru saja melihat film fenomenal Ketika Cinta Bertasbih.

Seperti biasa, karena sudah terlalu basi untuk dibahas detil teknis yang sudah dibahas ribuan tulisan saat film ini beredar di bioskop, saya akan cerita film ini dari sudut pandang saya sendiri.

Sebelumnya ada buku karya Kang Abik yang diangkat ke layar lebar, Ayat-ayat Cinta (AAC). Sayangnya film ini menuai banyak kontroversi pro dan kontra. Ini berarti film AAC meninggalkan banyak noktah ketidaknyamanan bagi penonton. Saya sendiri hanya melihat sekilas waktu VCD original ini dipinjam. Sekilas saya melihatnya, langsung muncul kesan : kok terlalu "sinetron" (apa karna diproduseri bos sinetron nasional?). Saya pun tidak tega untuk melanjutkan menontonnya. Enggan merusak kesan "agung" buku Kang Abik tersebut.

Dengan semangat menebus itu semua, tampaknya Ketika Cinta Bertasbih  (KCB) difilmkan dengan keseriusan yang lebih. Ini dapat dilihat pada awal film KCB yang langsung menampilkan setting yang selama ini ditunggu dan susah ditembus : Mesir. Bumi para Nabi.

Kasting pemain pun dikawal oleh para aktris dan aktor senior dan sang penulis cerita itu sendiri, Kang Abik. Ini kemudian dibuktikan dengan naturalnya akting para debutan ini di film KCB.

Meski olah emosi kedua adik Azzam dan Kang Abik (entah apa pertimbangan sutradara memainkan Kang Abik), terlalu cepat. Tidak ada step maupun jeda saat dari "senang" ke "kesal". Untuk kasus kedua adik Azzam terbantu dengan akting Ibu Azzam yang cemerlang.

Pendapat saya pribadi yang memiliki sedikit latar belakang teater : Tidak ada yang lebih buruk melihat akting seseorang di film yang seolah-olah dia sedang bermain di panggung teater.

Saya penggemar Butet Kartaredjasa saat di berada di panggung. Tidak pernah lewat pertunjukan beliau di Purwokerto buat saya tonton. Tapi, saya enggan melihat akting Butet di film.

Ini karena Butet masih membawa gestur teatrikalnya ke depan kamera film.

Ada perbedaan mendasar dari film dengan teater.
Teater. Untuk bisa menyampaikan gestur tubuh kita ke penonton terjauh di belakang sana, perlulah dilakukan dengan dilebih-lebihkan. Bayangkanlah kalau kita hanya sekedar mengangkat sebelah alis mata kita, tentulah penonton yang tengah pun tidak akan dapat melihat kalau kita sedang mengangkat 1 alis kita (karna tidak percaya akan sesuatu, misalnya). Untuk itu, diperlukan tindakan lebih lainnya, yaitu dari mimik wajah kita yang menegaskan kalau kita sedang mengangkat 1 alis mata.

Film. Tidaklah perlu seheboh itu jika ingin mengangkat 1 alis kita. Percayakan seluruhnya oleh bantuan kamera yang sedang merekam tingkah laku kita.

Itu kenapa sinetron semakin parah karena gestur-gestur teatrikal yang diumbar para pemainnya (menghela_napas).

Sukurlah di KCB, itu tidak banyak terjadi (karna mungkin dikawal dua aktor sekaliber Dedi Mizwar dan Didi Petet). Hanya itu tadi yang mengganjal, akting Kang Abik yang terlalu cool dan dua adik Azzam yang terlalu "meledak-ledak".

Paling menonjol tentunya adalah akting pemeran Azzam. Pas. Bersahaja, tapi tidak terlalu bersikap nelangsa. Bisa juga mengeluarkan guyonan secara alami.

Berikutnya adalah Bahasa yang digunakan.
Bagi saya, sangat mengganggu sekali jika film berada di setting suatu tempat tapi masih menggunakan bahasa ibu sang pembuat film.

Contoh yang menarik adalah film Laskar Pelangi yang memakai bahasa Belitong, dan pemain-pemain seniornya pun "dipaksa" berlatih beraksen Belitong. Hasilnya, setting di Belitong dengan aksen Belitong, serasa melihat kehidupan keseharian Belitong asli.

Contoh yang menyebalkan adalah film "Valkyre". Mungkin karena harus menyesuaikan dengan sang tokoh utama yang diperankan Tom Cruise, tokoh-tokoh asli Jerman di film ini justru menggunakan dialog Inggris. Hasilnya, film yang keseluruhan bersetting Jerman dan dipenuhi wajah-wajah khas ras Arya yang tegas dan keras, jadi terasa mengganggu dengan bahasa Inggris.

Masalah ini terasa mengganggu di film AAC dimana tokoh-tokoh asli Mesir berbahasa Indonesia. Untunglah hal ini diperbaiki di KCB I.

Saat berbicara dengan orang-orang Mesir, para aktor dari Indonesia juga berbahasa Arab-Mesir. Tidak perduli seberapa banyak dialog dengan tokoh-orang Mesir tersebut. Tidak ada lagi bahasa campuran saat berbicara dengan orang asli tempat setting dibuat.

Akhirnya,
saya menganggap film ini adalah sebuah "representasi dari kesungguhan".

Melihat film ini langsung terasa betapa film ini dikerjakan dengan semangat dan kesungguhan me-layar-lebar-kan sebuah karya sastra Islam yang fenomenal. Terlihat dari hasil sebuah kesungguhan adalah buah yang manis.

It's recomended buat yang belum menontonya....jangan2 cuman saya saja yg belum (kepruk_kosri) .

Terlepas dari itu semua,
saya pernah sedikit terganggu dengan komentar salah seorang sahabat saya.

"Saya gak terlalu suka karya2 Kang Abik...terlalu sempurna!"

Hmm...trus kenapa dengan sebuah "pribadi yang sempurna?"
Banyak juga yang bilang : "Ah, saya Islamnya biasa2 aja, seperti yang lain biasa-biasa aja."

Tahukah kamu, boi :
Muslim itu : mengambil yang baik dari yang buruk
Mukmin itu : mengambil yang terbaik dari yang baik.

Manusia dianugerahi hasrat untuk menaikkan derajatnya,
itu pula kenapa mendahulukan ibadah pada orang lain dimakruhkan dalam Islam, tapi mendahulukan maslahat orang lain diutamakan.
Karena tujuannya adalah meningkatnya derajat ketakwaan seseorang.

Karena apa, boi? Karena kita ndak bisa yakin dengan modal "biasa-biasa saja" bisa tenang sebelum benar-benar ada jaminan bakal masuk surga-Nya tanpa dipanggang dulu di api neraka. Jadi, kita bener-bener harus meningkatkan derajat kita dihadapan-Nya, boi.

Jadi pribadi yang sempurna.

Dan tokoh-tokoh utama dari karya Kang Abik adalah model pribadi yang sempurna. Jadi, diharapkan pembaca menarik pelajaran : "beginilah harusnya saya menjadi seseorang itu. Dengan akhlak yang baik seperti ini."

Juga sebagai tempat bercermin. Dengan melihat role-model sempurna seperti ini, kita bisa mengukur seberapa jauh diri kita dengan kepribadian yang sempurna seperti ini.

Ini juga yang menyebabkan tokoh sempurna Kang Abik tidak disuka, ya. Karena "miror,miror in the wall"-nya tidak mengatakan pada diri kita kalau kita sama baiknya dengan cermin dihadapan kita...hehehe..

Demikian.



16 comments:

  1. halah nyong durung nonton

    BalasHapus
  2. Hah? is that all... ? Wah... msh ada yg kurang nih... Ulasan ttg cerita dlm film mana? Tapi oke lah, sebuah review yg cukup objektif dr seorang pelakon teater... (worship)

    BalasHapus
  3. matab tapi sayang aku rung nonton

    BalasHapus
  4. kalo teater masih bisa salah, kalo di film adegan salah berarti sutradarane picek

    BalasHapus
  5. Hahaha... nyeberang sungai 2 kih..ngentekne sandal piro kang...???

    BalasHapus
  6. 1. wih,,, jadi kangen Azzam (blush)
    2. eh eh ada latar belakang teater toh? ternyata selain pernah jadi buruh di perusahaan tidak terkenal,(ini bukan sayah loh yg ngomong) masih ada sisi lain dari dirimu, mas (jyahh)
    3. ditunggu ulasan pelem Sang Pemimpi...

    walopun harus berbulan2 kemudian :D

    BalasHapus
  7. film e wes suwe
    ning aku rung nonton
    kapan diputar di tv?

    BalasHapus
  8. Untuk masalah rekam teatrikal yang dibawa-bawa ke film saia setuju sangat. Ganggu banget dengan gaya yang kelewat serius mbawainnya.

    Waktu itu saia liat di peran Jamilah dan Sang Presiden.

    (worship) ternyata ada latar belakang teaternya yak.

    BalasHapus
  9. basi? malah saya suka yang basi-basi hehehe maksudnya saya, saya malah lebih suka filem yang saya "pendem" dulu hingga "hingar bingar"nya sudah hilang. karena kalau saya nonton karena pengaruh orang atau lagi heboh-hebohnya malah pada akhirnya saya kecewa ... seperti dulu filem jalangkung 2 yang ngantrinya (malam minggu) dari siang terus dapetnya midnite ... ehhh pas nonton filenya kamprets.

    kembali ke KCB: setuju sekali bung pradna tentang adek azam yang meledak-ledak aktingnya. sebenarnya mereka pengen dibilang bisa akting tapi jelas ketahuan bodonya. saya juga komplain sama kang abik mengenai pemilihan sutradara (terutama Director of Photografinya ) yang menurut saya hasilnya nonton bioskop kok jadi kayak nonton sinetron kejar tayang. dimana letak keindahan pemandangan mesir yang konon sudah digembar-gemborkan sejak lama. benar-benar gak jelas. kalau mau referensi yang lumayan bagus untuk "mengcapture" keindahan, filem Denias harusnya menjadi referensi ... sutradaranya juga tidak bisa meningkatkan kemampuan atau paling tidak merekam saat-saat terbaik dari aktornya ... padahal sudah senior loh tu sutradara, tapi kok gitu-gitu aja hasil kerjanya ... mesti bermain sama yang lebih muda kali yah ... biar bisa mengexplore lagi kemampuannya ...

    Didi petet di filem ini aktingnya buruk. menurut saya lebih bagusan di filem "kacangan" seperti kamulah satu-satunya. enggak tau kenapa ... mungkin kelamaan jadi guru akting dan juri sehingga lupa mengasah kemampuan sendiri kali ... hehehe. kalau dedy mizwar mah is the best lah! mau jadi orang gila, ustadz, kakek-kakek bisa! semakin matang saja nich akting si om ...

    untuk akting kang abik? ... saya bingung kok kang abik ikut-ikutan ... narsis, aji mumpung atau apa nich?hehehe yaaaa gitu dech. mungkin dulu kecewa sama hanung yang "merombak" karyanya sehingga untuk karya selanjutnya dia total terjun. tapi malah jadi aneh ... karena dia enggak tahu lapangan...

    untuk pemeran azam dll yah gitu ... mending lah untuk yang keduanya (udah nonton belom?)

    kalau masalah karya kang abik yang cenderung lebay katanya ... ya itu terserah pengarang sih .. toh ini semua kan impian dan imajinasi kang abik yang ingin hidup di dunia sempurna dambaan dia. tapi yah salahnya untuk diangkat ke filem jangan leterlek dari novel (jangan pula melenceng kayak di AAC) malah dialog-dialognya jadi terkesan "kaku" (mungkinjuga pengaruh penghayatan aktornya juga kali yah)... mungkin yang bikin skenario belom bisa bikin "formula" yang pas kali yah ...

    untuk kang abik ditunggu karya selanjutnya ...

    BalasHapus
  10. mas pradna ganti ke wordpress donk ... ngepost komennya susah kalau pake hape nich di blogspot (manas-manasin)

    BalasHapus
  11. benar, boi..
    aku jg gt, mo komen apa juga, kalo kita ngerasa ini baik or bagus, ya jalanin aja..
    betul, boi ?

    BalasHapus
  12. yo wis gendeng eh gandeng wis okeh sing komentar aku tak ndodok mirsani wae... ojo meri!

    BalasHapus
  13. buat aku ya asyik aja nonton filmnya, karena udah baca novelnya sih

    BalasHapus
  14. wah, saya malah gak pernah nonton semuanya dari bioskop, dari VCD ori saja sudah cukup hehehe

    BalasHapus
  15. untung dipondok ada Bioskop GOR Al Hikmah, sedikit2 jadi nda ketinggalan..

    BalasHapus
  16. alhamdulillah saya bisa nonton film perdananya di bioskop pula he he
    saya suka filosofinya mas bagus ...
    Muslim itu : mengambil yang baik dari yang buruk
    Mukmin itu : mengambil yang terbaik dari yang baik.

    BalasHapus

silahkan,silahkan dicorat-coret