Taiko and Shogun Total War
Senin, 02 November 2009
"Bagaimana jika burung tak mau berkicau?"
Nobunaga menjawab : "Bunuh saja!"
Hideyoshi menjawab : "Buat burung itu ingin berkicau."
Ieyasu menjawab : "Tunggu."
Saya pertama kali mengetahui sengoku jidai (yang kurang lebih berarti :" masa kekacauan") dari game komputer bertitel : "Shogun Total War" (STW) yang didistribusikan oleh EA Games. Bertahun yang lalu, sebelum saya belajar mengenal arti kata "original/genuine" dan "bajakan".
Game STW adalah game strategi yang bagi saya merupakan game strategi masterpiece. Berdasarkan tokoh-tokoh epik masa itu, kita ditugaskan menjadi penguasa militer seluruh Jepang...atau Taiko.
Menariknya, game STW menyertakan pop-up animasi untuk kejadian-kejadian tertentu. Seperti pembunuhan oleh ninja, laporan dari emisary yang kadang cuma berupa kepala sang emisary yang sudah terpenggal yang diletakkan di nampan, atau pembunuhan target oleh geisha.
Sedikit catatan dari game ini. Jika kita sudah mempunyai geisha yang mumpuni, seorang geisha bisa membunuh seluruh daimyo (Pemimpin Marga) yang ada. Bila sang daimyo tidak memiliki keturunan, punahlah marga tersebut dan bakal sangat mudah menyelesaikan game ini. Maka judulnya bakal berganti menjadi : "Geisha Total War" :-D
Waktu berlalu, game STW sudah lama saya uninstall karena sudah tamat menjadi Taiko dari beberapa marga yang ditawarkan (untuk memulai game ini, kita diharuskan memilih salah satu marga utama pada masa itu). Saat itulah saya menemukan buku berseri "Taiko" karya Eiji Yoshikawa, terselip di pojok
Ya, awal-awal buku ini oleh Gramedia memang diterbitkan secara berseri menjadi 10 buku. Kebetulan (atau untungnya) di persewaan itu, seri ini dimulai dari buku kedua. Buku pertama hilang, kata mas penjaga rental-buku.
Saya merasa beruntung karena buku pertama menceritakan perjuangan Tokichiro muda (yang kelak dikenal dengan Toyotomi Hideyoshi) dalam mencari jati diri
Taiko karya Eiji Yoshikawa dengan ketebalan 1142 halaman, secara keseluruhan menampilkan Toyotomi Hideyoshi sebagai tokoh utama. Kemudian cerita dihentikan saat dia menjadi seorang Taiko. Tidak lagi diteruskan cerita saat kejatuhan Hideyoshi oleh Tokugawa Ieyasu.
Buku ini menjelaskan banyak tokoh hebat muncul dalam masa yang sama di saat jaman kacau karena kekuasaan melemahnya Shogun (semacam Perdana Menteri bagi Kekaisaran Jepang). Ada Takeda Shingen, Uesegi Kenshin, Imagawa Yoshimoto. Tapi lebih dari itu ada 3 orang yang melebihi kapasitas dari tokoh-tokoh berpengaruh tersebut. Oda Nobunaga, Tokugawa Ieyasu, dan Toyotomi Hideyoshi.
Ketiganya memiliki hubungan yang unik. Nobunaga dan Ieyasu adalah sekutu, sedangkan Hideyoshi adalah pembantu/jenderal Nobunaga.
Bagaimana ketiganya berhasil menjadi (nyaris) Penguasa Militer se-Jepang? Sejarah membaginya secara adil, yaitu bergiliran mencicipi kekuasaan itu...meski hanya sebentar.
Oda Nobunaga, berwatak garang dan beringas. Paling tua diantara mereka bertiga. Membuka jalan mimpi menyatukan negeri yang sedang kacau. Di puncak kejayaannya saat sebentar lagi bisa menyatukan negeri, terbunuh oleh pengkhianatan orang kepercayaannya sendiri : Akechi Mitsuhide.
Toyotomi Hideyoshi, berusia di tengah 3 orang ini. Mimiliki watak yang paling luar biasa dibanding 2 tokoh hebat lainnya. Merasa terpanggil untuk mengambambil alih kekuasaan junjungannya yang terbunuh. Begitu berhasil menyatukan negeri dan menjadi Taiko. Harus takluk pada kesabaran (dan mungkin faktor usia Hideyoshi sendiri) Tokugawa Ieyasu pada peperangan paling berdarah di padang Sekigahara.
Tokugawa Ieyasu, paling muda. Paling sabar dan rela menunggu kesempatan atau giliran dia tampil di panggung puncak pemerintahan Jepang. Mati karena usia.
Karena memang setelah 2 tokoh luar biasa diatasnya, tidak ada lagi yang bisa menghalangi marga Tokugawa memegang pucuk pemerintahan. Terbukti marga Tokugawa bisa bertahan selama 2 abad memerintah Jepang tanpa ada pemberontakan yang berarti lagi. Sebelum digerus jaman restorasi berdarah dari sang Tenno (Kaisar) Meiji, sendiri.
Benar-benar sesuai apa yang digambarkan sajak diatas.
Buku Taiko menitikberatkan pada taktik-strategi-politik Jepang saat itu. Sehingga mungkin tidak begitu menarik pembaca yang lebih mendamba "cerita" itu sendiri. Belum lagi begitu banyaknya tokoh-tokoh dengan nama yang susah dihapal bagi lidah Indonesia. Tapi bagi saya ini lah bacaan yang pas dan luar biasa.
Membaca buku ini, tentulah membangkitkan hasrat saya untuk mempraktekkannya di dunia simulasi game Shogun Total War. Game STW pun saya install kembali.
Menyenangkan sekali bertemu dengan jenderal-jenderal hebat yang sebelumnya ada di buku Taiko. Dihadirkan kembali di game STW, sesuai dengan kapasitasnya. Jenderal-jenderal besar legendaris di buku Taiko (seperti Akechi Mitsuhide, Honda Heicharo), di game STW begitu tercipta langsung mendapat bintang (rank) banyak. Misalkan Oda Nobunaga begitu memasuki usia dewasa dan memimpin pasukan, langsung mendapat 7 bintang (rank).
Perangkingan di game STW berpengaruh pada moral pasukan, dan sulitnya jenderal itu sendiri di bunuh. Baik di peperangan ataupun oleh geisha.
Game STW, memungkinkan kita untuk menggerakkan puluhan ribu prajurit dalam satu waktu di medan peperangan. Benar-benar memuaskan hasrat untuk sekali waktu memimpin prajurit secara masal di medan pertempuran ;)
Berikut beberapa skrinsyut game Shogun Total War yang saya ambil dari berbagai sumber.
Selesai membaca buku ke sepuluh. Timbul keinginan kuat saya untuk membeli buku Taiko. Sayang, kesepuluh buku itu sudah susah mencarinya. Sempat juga berpikir untuk men-foto-copy sepuluh buku Taiko. Sebelum niat tidak pantas saya terlaksana. Gramedia menerbitkan ulang dalam bentuk hardcover Taiko. Dijadikan satu buku tentunya harga lebih murah. Langsung saja saya membawa pulang buku Taiko yang sudah diidam-idamkan selama beberapa tahun.
Saat ini saya sudah memasuki mengulang membaca Taiko ke empat kalinya :)
awesome epic-story!




13 komentar:
saiki aku lagi seneng maen dota je..
doh dadi jarang ngeblog
kyaknya aku pernah baca sekilas buku ini pas ke toko buku. menarik juga ya.
wah sepertinya masaku dah lewat utk menyukai lagi dunia komik dan game jepang.
salam super,,,
saya dulu penggemar komik juga ..
tapi sekarang malah diwariskan ke adik adik...
sukses untuk anda !!!
kok semenjak kuliah jadi males maen game ya.... :(
btw bagus postingannya
pernah baca taiko tapi belum selesai :-(
gamenya kayaknya asik tuh, berat nggak?
sungguh merinding dikala membaca postingan ini
#sumpah, kita membaca buku yang sama#
waaaa nyari game ini di mana yah, keren banget kayanya
@annosmile : jaman dot A berjaya, saya malah menjadi jelata :D
@Sang Cerpenis bercerita : mantab sangat
@Masnur dan Andri Sianipar : nganu..ini novel setebal 1142, lho ;)
@arros : bagus itu. demi mengembalikan jati diri bangsa :D
@Linduaji : game jadul, Kang...game jaman Pentium 3 sedang berjaya
@gajah pesing : toss!
@Reza Fauzi : gamenya maupun bukunya...top class!
adik saya pasti tertarik banget nih baca artikelnya ..
kl dah ada game2 gitu udah deh .. dia banget dah ..
Cara Membuat Web
wakh keknya lagi sakaw ama game strategy ya....hhhmmmmm aku juga seneng
tak kiro STW kuwi Setengah Tuwo...
wah, pengalaman yang 99% nyaris sama dengan saya. hanya berbeda alasan pembelian novel-nya saja.
saya kenal duluan dengan game STW. Lalu beberapa tahun kemudian secara tak sengaja tergoda untuk membeli novel Taiko (hard cover). Saat itu yang ada dalam pikiran saya, "ni novel ceritanya pasti dasyat ! untuk cerita setebal ribuan halaman itu, TIDAK MUNGKIN sang penulis bercerita dengan gaya membosankan !". Dan betul saja, saya hingga berpuluh-puluh kali membaca ulang novel itu, dan tak pernah bosan.
Di kala saya tengah membaca novel itu untuk pertama kalinya, saya dianugerahi seorang putra. Dan tanpa pikir panjang, saya tambahkan nama Hideyoshi, di nama anak saya. Si kecil yang kini berusia 4 tahun itu bernama lengkap Muhammad Hideyoshi 'Abdul 'Aziz Adhiwarsono. :D
Kini pun saya sudah meng-install kembali game STW di laptop saya, dan jadi satu-satunya game yang gak pernah di uninstall (lagi). hehehehe...
Salam kenal, dari sesama penggemar sang Taiko. Pasti senang, bila suatu saat kita bisa bersua. :D
Bayu Adhiwarsono
Poskan Komentar